IT’S LIFE

Asap-asap pabrik pagi itu mulai mengepul kembali. Ini berarti ibuku harus kembali pada pekerjaan beratnya yang harus ia lakukan. Ya! Ibuku adalah seorang buruh pabrik. Pabrik yang bila dipandang dari sudut kesehatan dan sosial sangatlah merugikan. Namun dari segi ekonomi, hanya itulah sumbar pencaharian keluargaku. Tidak semata-mata hanya pasrah pada nasib, aku dan ibuku sungguh telah berusaha untuk mencari pekerjaan lain, namun ibuku hanyalah seorang lulusan SMK jurusan akuntansi yang berhenti sekolah karena penyakit psikomatis yang dideritanya, ibu yang selalu takut kepada gurunya bila tidak mengerjakan PR dan tugas-tugasnya.

Hal ini terjadi kerana jiwa ibuku yang penakut dan cenderung memendam apapun yang menjadi masalahnya. Sampai-sampai menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga pun ibuku hanya diam, diam, dan diam. Ya! Hidup kami menderita setelah ayah biologisku sendiri selalu memperlakukan ibuku dengan begitu sadisnya. Bahkan tak segan –segan tangan ayahku yang dulu selalu hangat membelai rambutku berubah menjadi tangan besi yang selalu  melukai paras cantik ibuku.

Karena itulah ibuku berpisah dengan ayah saat aku berumur 6 tahun. Usia dimana aku sedang senang-senangnya memasuki sekolah baru. Aku ikut dengan ibuku karena hak asuh ada di tangan ibuku. Lalu, sejak saat itu aku tak pernah lagi mengetahui keberadaan ayahku 8 tahun ini.

“eh, Baruna maaf ya? Aku  jadi banyak curhat sama kamu! Aku bener-bener gak enak”.

“ gak apa-apa Aldea, aku gak bisa bayangin aja kalo aku jadi kamu” sahut Baruna dengan sabar. “ya udah aku pulang dulu ya Runa!”kata Dea dengan agak malu dan buru-buru.” “hati-hati ya Dea, maaf aku gak bisa anter kamu pulang, soalnya Si Jengki lagi mogok.”

“Iya-iya……gak apa-apa. Aku pulang dulu, Assalamualaikum!” kata Aldea. “walaikumsalam,” sahut Runa sambil bangkit dari kursi.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Aldea terus saja menggerutu dan menyalahkan dirinya sendiri. “aduh, kenapa sih aku teledor. Baruna jadi tahu semua tentang keluargaku, tentang Ayahku.!” Apakah nantinya Baruna akan menjauhi ku karena keluargaku tak lengkap?” Tanya Aldea dalam hati, sambil meneruskan langkah kakinya. Sesampainya di rumah, Aldea langsung saja mandi, kemudian merebahkan tubuh kecilnya yang lelah.

Pagi-pagi sekali Aldea sudah dikejutkan suara lembut ibunya yang memanggil-manggil namanya. “Aldea bangun nak, hari sudah pagi.” Kata ibu. “iya bu,” sahut Aldea sambil mengucek-ucek kedua matanya.

Setelah membantu ibunya membersihkan rumah, Aldea kemudian pergi ke kamarnya untuk mengambil seragam dan peralatan mandinya. Di rumah kontrakan yang sangat sederhana itu, Aldea dan ibunya tidak memiliki kamar mandi. Jadi setiap hari mereka mandi di kamar mandi umum, yang jaraknya sekitar 50 meter dari rumahnya.

Hari ini Aldea agak kesiangan pergi ke kamar mandi. Sesampainya disana ternyata sudah banyak orang mengantri untuk mandi, ia menjadi khawatir, ia takut kalau-kalau ia mendapat giliran mandi terlalu siang, ia pasti akan terlambat sampai ke sekolah.

Kekhawatiran Aldea ternyata benar, ia mendapat giliran mandi jam 6. “aduh,aku pasti terlambat,aku harus cepat-cepat mandi.”kata Aldea terburu-buru.

Aldea terlambat tiba di sekolah setelah melapor kepada guru piket dan menjelaskan alasan keterlambatannya, kemudian ia diizinkan masuk kelas. Pelajaran hari itu berlangsung biasa-biasa saja. Namun pada hari itu Pak Aji mengumumkan bahwa ada lomba karya tulis ilmiah siswa SMA  tingkat nasional. Sembari keluar Pak Aji berkata kepada Aldea,”Bapak harap kamu dapat mengikuti lomba ini Dea, karena Bapak yakin kamu mampu dan berpotensi dalam bidang ini. Ini formulir dan persyaratannya. Aldea hanya menjawab, “iya Pak.” “lomba ini adalah kesempatan emas buatku, aku yakin aku pasti bisa” kata Aldea dalam hati.

Saat istirahat, Aldea segera menuju kelas Baruna untuk menceritakan tawaran dari Pak Aji. Namun hari itu ternyata Baruna tidak masuk sekolah karena penyakit asmanya kambuh. Aldea kembali ke kelasnya dengan langkah gontai. Hari ini ia sedih karena sahabat karibnya sedang sakit. Padahal hari ini Aldea ingin meminta bantuan kepada Baruna untuk mengadakan observasi mengenai KIR-nya. Seketika Aldea mengubah tujuannya untuk mengadakan observasi.”Aku harus ke rumah Runa, observasinya kan besok-besok juga bisa.”

Sepulang sekolah,Aldea langsung saja berjalan ke rumah Baruna. Ia ingin segera tahu bagaimana kondisi karibnya itu.”Assalamualaikum,” sapa Aldea di depan pintu rumah Baruna.”Assalamualaikum.”ulang Aldea. Masih juga tidak ada sahutan dari dalam rumah. Kemudian seorang wanita paruh baya menghampiri Aldea. “Cari Baruna ya Neng? Tanya wanita itu. “Eh iya bu….!jawab Aldea dengan gugup karena agak terkejut.” Baruna sejak semalam dibawa ke rumah sakit, penyakitnya kambuh. Mungkin agak parah, soalnya belum pulang-pulang juga!”jelas perempuan itu.”Oh begitu ya bu. Eh…Runa dirawat di rumah sakit mana ya bu?” Tanya Aldea.”Di rumah sakit Garuda Pelita.”jawab ibu itu.” Ya sudah terimakasih bu! Saya mau menyusul ke rumah sakit saja.”jawab Aldea sambil berpamitan.

Sesampainya di rumah sakit, Aldea melihat Ayah dan ibu Baruna sedang berada di depan loket administrasi rumah sakit. Langsung saja Aldea menghampiri mereka dan bertanya,”Om,Tante Baruna sekarang ada dimana? Bagaimana keadaanya?”Tanya Aldea tersengal-sengal karena ia berlari menuju rumah sakit. “Aldea, gak apa-apa Nak, sekarang Runa sudah boleh pulang. Kamu kenapa berkeringat banyak sekali begini?” Tanya ibu Baruna sambil mengusap dahi Aldea dengan sapu tangannya. “Gak apa-apa tante, tadi Aldea lari-lari kesini.”jawab Aldea. “Ya sudah, ayo kita ke kamar Baruna,” ajak ayah Baruna.

Hati Aldea menjadi sangat lega, begitu mengetahui Baruna sudah boleh dibawa pulang. Aldea ikut mengantar Baruna pulang. Sepanjang perjalanan, di dalam mobil, Aldea dan Baruna membicarakan rencana observasi  KIR Aldea. “Kalo observasi sih aku bisa sendiri, tapi ngetiknya itu lho, kan aku gak punya komputer .”keluh Aldea. “Tenang aja, kan dirumahku ada komputer, kamu boleh pake kok.”tawar Baruna. “Iya Aldea, Om dan Tante mengizinkan kamu memakai komputer Baruna untuk tugas kamu itu.”kata ibu Baruna sambil tersenyum. “Terimakasih ya Om, Tante.”jawab Aldea penuh riang.

Setelah agak lama mengobrol di rumah Baruna,Aldea segera berpamitan untuk pulang. Ternyata  ibunya sudah menunggu di rumah. “Kenapa jam segini baru pulang Dea?”Tanya ibunya. “Tadi Aldea ke rumah sakit dulu Bu, soalnya asma Baruna kambuh.”jawab Aldea. “Oh begitu…lalu bagaimana keadaannya sekarang?”Tanya ibunya lagi. “Tadi Aldea ke rumah Baruna, tapi kata tetangganya dia dirawat di rumah sakit, jadi Aldea nyusul ke rumah sakit, eh…. Ternyata Baruna sore itu udah boleh pulang. Jadi Dea sekalian nganter Runa pulang.”jelas Aldea. Oh begitu, kasihan ya Baruna. Keluarganya berkecukupan tapi fisik Baruna kurang sehat.”kata ibunya.

“Iya bu, kan ibu pernah bilang sama Dea kalo setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan. Baruna memiliki banyak kelebihan tapi ia tidak sehat secara sempurna. Tapi kalau Dea memang gak kaya seperti Baruna tapi Aldea sehat. Tuhan ternyata sangat adil ya Bu?”Tanya Aldea dengan senyum simpul. “Syukurlah kamu paham nak!”ujar ibunya.

Cerita diatas menggambarkan betapa Tuhan menciptakan umat-Nya dengan bermacam-macam kehidupan. Di dalamnya terdapat berbagai suka dan duka yang menghiasi kehidupan ini. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya.

2 thoughts on “IT’S LIFE

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s